Lintas Daerah News

Umat Hindu Gunung Wilis Jalani Catur Brata Nyepi

NGANJUK – ANJUKZONE – Suasana di Dusun Curik, Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur mendadak lengang. Tidak ada aktifitas apa pun selama 24 jam, mulai pukul 06.00 pagi, Sabtu, 17 Maret 2018 hingga pukul 06.00 pagi, Minggu, 18 Maret 2018. Bahkan suara warga dalam rumah pun nyaris tidak terdengar. Yang terlihat, hanya beberapa Pecalang, yakni pemuda umat Hindu Dharma, duduk di tepi jalan, sambil sesekali lalu lalang dari satu tempat ke tempat lain.

Ternyata, warga desa di lereng Gunung Wilis ini penganut agama Hindu Dharma. Mereka sedang menjalankan ritual catur brata penyepian, memperingati hari raya Nyepi dan tahun baru saka 1940 Masehi.

Darminto Gede, salah seorang Pecalang menyampaikan, ada sekitar 600 umat Hindu di Dusun Curik, Desa Bajulan, Kecaamatan Loceret yang menjalankan ibadah penyepian di dalam rumahnya masing-masing. Dengan harapan, mereka dapat lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan cara melakukan catur brata penyepian. Sehingga semua kegiatan duniawi ditinggalkan untuk kurun waktu 24 jam.

Salah seorang Pecalang menjaga Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis, peringati hari raya Nyepi (foto-sukadi)

“Hanya, para Pecalang yang diperbolehkan keluar masuk rumah, untuk menjaga umat yang sedang menjalankan ibadah penyepian,” terang Darminto.

Menurut Darminto, catur brata penyepian, memiliki makna, yaitu amati karya, amati geni, amati lelungan, dan amati lelanguan.

Amati karya maksudnya, semua umat Hindu pada hari raya Nyepi, tidak diperbolehkan melakukan aktififas atau pekerjaan apapun. Sedangkan, amati geni, umat Hindu tidak diperbolehkan menyalakan api, baik itu lampu, maupun api lainnya.

“Jadi saat Nyepi,  tidak ada aktifitas masak-memasak ataupun aktifitas lain dengan menyalakan api  atau lampu selama 24 jam,” tegasnya.

Sedangkan yang dimaksud amati lelungan adalah, saat Nyepi umat Hindu tidak diperbolehkan bebergian. Mereka tinggal di rumah, beribadah mendekati diri kepada Tuhan.

Darminto, Pecalang Pura Kerta Nhuwana Giri Wilis (foto-sukadi)

Terakhir adalah lelanguan.  Brata ini dimaksudkan bahwa pada hari Nyepi umat tidak boleh melaksanakan kegiatan yang berfoya-foya atau bersenang-senang. Hiburan selain membantu untuk menghilangkan kejenuhan secara tidak sadar akan membuat menjadi lupa diri dan terjerumus.

“Bila mampu umat sebaiknya melaksanakan puasa,” tegasnya.

Untuk peringatan Nyepi tahun ini, di Dusun Curik, Desa Bajulan menurunkan 7 Pecalang untuk menjaga umat Hindu yang sedang beribadah. Mereka bertugas, memberi peringatan kepada umat yang melanggar aturan yang sudah ditetapkan. Untuk itu, secara bergantian, para Pecalang melakukan penjagaan kampung, agar umat Hindu dapat menjalankan ibadah dengan khusuk.

Hanya, umat Hindu di Dusun Curik ini belum bisa melaksanakan Nyepi dengan khusuk, lantaran masih terdengar suara bising dari kendaraan yang melintas di jalan dusun tersebut.

“Karena di Dusun Curik ini cuma ada satu jalan, sehingga orang-orang yang ada di desa sebelah kalau mau bebepergian pasti lewat jalan ini. Jadi masih rame suara kendaraan,” pungkasnya.

Reporter : Sukadi

Editor : Yuniar Nurrohmah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *