Birokrasi Hukum Kriminal Nasional News

Ini Cara Bupati Taufiqurrahman Disuap

Buat Uang Saku ke Istana hingga Syukuran

SIDOARJO – ANJUKZONE – Sidang lanjutan dugaan suap mutasi dan promosi jabatan di lingkup Pemkab Nganjuk yang menyeret Bupati Nganjuk nonaktif Taufiqurrahman telah memasuki tahap mendengarkan keterangan saksi-saksi. Kali ini 6 saksi yang terlibat dimintai keterangan di hadapan Jaksa KPK, diantaranya Harijanto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Nganjuk dan Agus, Plt. Sekda Nganjuk, di Pengadilan Tipikor Surabaya, Jumat, 16 Maret 2018.

Di depan Jaksa KPK, Harijanto membeberkan uang senilai Rp 50 juta yang pernah diberikan kepada Suwandi (Kepala SMPN 3 Ngronggot). Saat itu, Harijanto memberikan uang dalam bentuk amplop coklat di depan SMPN 2 Nganjuk, malam sebelum Harijanto ditelpon dan diminta menyiapkan uang dengan alasan, ada acara ke istana.

“Malam harinya saya ditelpon dan disuruh menyiapkan uang katanya mau ada acara ke istana,” beber Harijanto, memberikan keterangan sebagai saksi, Jumat, 16 Maret 2018.

Bukan hanya itu, Taufiqurrahman juga pernah minta uang ‘syukuran’ kepada Harijanto. Sehingga, dia segera berkoordinasi dengan tiga kabid-nya, dan para kabid meneruskan ke sejumlah kontraktor.

“Ada yang memberi Rp 80 juta, ada yang Rp 100 juta, totalnya seingat saya kalau gak salah sekitar Rp 500 juta dan kemudian saya serahkan ke ajudannya Bupati,” paparnya.

Selain kepada Harijanto, Hakim I Wayan Sosiawan yang memimpin jalannya sidang juga mendengarkan keterangan saksi Agus, Plt. Sekda Nganjuk.

Ini terkait perkara dugaan suap mutasi dan promosi jabatan yang dilontarkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK bahwa untuk menduduki jabatan Kadis harus membayar Rp 50 juta, sedangkan untuk jabatan Kabid antara Rp 20 juta hingga Rp 30 juta. Pada tahun 2016 disebut Agus dalam keterangannya, adanya penarikan uang terkait pengukuhan pejabat fungsional di lingkungan pemkab Nganjuk.

“Pungutan bervariasi dari Alm. Suroso, Kepala BKD. Dinas pendidikan dan kesehatan terbanyak. Caranya, kalau jabatan yang diminta kepala BKD sesuai dengan pangkat akan dilanjutkan dan di-acc Bupati,” beber Agus.

Selama persidangan, Agus juga sempat membeberkan posisinya sebagai Plt. Sekda Nganjuk. Agus menyampaikan jika jabatan sebagai Sekda waktu itu adalah posisi jabatan yang paling mengerikan diantara jabatan yang lain. Pasalnya, di lingkup Pemkab Nganjuk telah menjadi incaran KPK. Lantas bupati sendiri meminta Agus untuk menduduki posisi Plt. Sekda, karena dianggap yang bisa menampung dan menjalin komunikasi dengan para pejabat lain di Nganjuk.

“Kamu yang bisa menampung dan berkomunikasi dengan para pejabat,” kata Agus menirukan ujaran Taufiqurrahman.

Sidang lanjutan dugaan suap mutasi dan promosi jabatan di lingkup Pemerintah Kabupaten Nganjuk yang menyeret Bupati Nganjuk (periode 2013-2018), Taufiqurrachman, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nganjuk‎, Ibnu Hajar, dan Kepala SMP Negeri 3 Ngronggot Kabupaten Nganjuk, Suwandi akan di gelar lagi pada hari Jumat pekan depan, 23 Maret 2018.

Reporter: Sukadi

Editor: Yuniar Nurrohmah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *