Berita Edukasi Ekonomi Nasional News Pertanian

SMKN Pertanian Tulangbawang Tengah Tekuni Budidaya Hortikultra

Berkebun Sambil Belajar Dapatkan Uang

TUBABA – ANJUKZONE – Begini cara lembaga pendidikan vokasi mengembangkan skills peserta didiknya. Mereka diterjunkan ke masyarakat, untuk menggali ketrampilan sesuai bidangnya masing-masing. Salah satunya dilakukan oleh sejumlah pelajar SMKN  Pertanian Tulangbawang Tengah, Kabupaten Tulangbawang Barat. Dalam program praktik kerja lapangan (PKL), pelajar kejuruan ini telah banyak melakukan praktik budidaya tanaman hortikultura di perkebunan milik Ir. Riswanti Iriani, di Desa Kagunganratu, Kecamatan Tulangbawang Udik, Kabupaten Tulangbawang Barat, Lampung. Mereka berkebun sambil belajar dan menghasilkan uang.

Riswanti Iriani, di atas hektaran lahan perkebunannya banyak ditanamani aneka buah-buahan dan sayur-sayuran. Diantaranya, buah klengkeng, rambutan, jambu kristal, jambu air, buah naga, belimbing, nangka, nangkadak, serta beraneka sayuran. Tak heran, nyaris tiap hari, banyak aktifitas difokuskan pada pekerjaan di kebun miliknya yang sudah ditekuni puluhan tahun ini. Bukan hanya buah dan sayuran, di sela-sela tanaman masih ada kolam yang tidak sedikit jumlah ikannya.

“Sering digunakan anak-anak PKL untuk mengembangkan ketrampilannya, mulai cara menanam hingga pasca panen,” terang petani kebun jebolan sarjana Teknik Kimia UPN Yogyakarta ini.

Ir. Riswanti membimbing peserta PKL cara mencangkok buah rambutan (foto-Riswanti)

Seperti dilakukan sehari-hari oleh anak-anak PKL, mereka diajari cara berkebun yang baik dan benar. Mulai dari proses budidaya hingga masa panen. Antara lain, bagaimana cara mencangkok, ukulasi, menanam, pemupukan, pengobatan, perawatan, hingga memproduksi olahan hasil panen. Tak heran pula, nyaris hari-harinya, peserta PKL diterjunkan ke kebun buah miliknya setelah beberapa saat menerima teori cara budidaya tanaman hortikultura. Bukan hanya materi PKL, peserta juga mendapat wejangan dari Babinkamtibmas Polsek Tulangbawang Udik tentang kenakalan remaja dan dampak obat-obatan terlarang.

“Ini sudah berjalan dua bulan, anak-anak PKL sudah banyak perkembangan. Mereka sudah bisa mencangkok dan okulasi, serta memilih bibit yang bagus,” tandasnya.

Menariknya, peserta PKL juga diajarkan cara membuat produk olahan dari hasil kebun. Mereka memproduksi berbagai jenis olahan, seperti minuman dan kue, lantas dijual ke toko-toko atau kantin sekolah.

“Jadi tidak hanya bisa bertanam saja, tapi mereka harus bisa menjadi entrepreneur yang baik, seperti bisa menjual hasil produk-nya,” ujar Riswanti.

Reporter : Riswanti Iriani

Editor : Sukadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *