Edukasi Opini

Olimpiade dan Kasta Sekolah

Oleh : Tutut Guntari, M.Pd

 

NGANJUK – ANJUKZONE – Percayalah bahwa sekolah Indonesia itu berkasta. Ada sekolah kaya, sekolah miskin, sekolah unggulan, sekolah biasa, sekolah favorit, sekolah buangan, sekolah kota, sekolah pinggiran, dan sekolah para juara atau bahkan sekolah para pecundang.

Sekolah kaya, unggulan dan favorit selalu diuntungkan karena memiliki sumber dana berlimpah dan input siswa yang terpilih dengan tingkat kecerdasan serta asupan gizi yang tinggi. Sedangkan sekolah miskin, biasa dan pinggiran memiliki sumber finansial serba terbatas dan input siswanya merupakan sisa saringan dari sekolah level di atasnya.

Adalah tidak fair jika sekolah dengan perbedaan kasta itu dipertandingkan dalam satu event lomba akademik, semisal Olimpiade Sains dan sejenisnya. Mengapa? Karena mustahil “sekolah kere” bisa mengejar lebarnya kesenjangan usaha dan kualitas atas “sekolah kaya”.

Sekolah kaya, jauh hari telah merancang program khusus pelatihan dan camp persiapan menghadapi Olimpiade. Mereka mengalokasikan dana khusus untuk itu. Pelatih-pelatih terbaik mantan juara olimpiade didatangkan untuk membekali siswanya. Asupan gizi para calon juara olimpiade ini betul-betul mereka perhatikan, dari seberapa banyak sayur dan daging yang harus dikonsumsi hingga suplemen tertentu yang harus ditelan. Belum lagi perhatian orangtua siswanya, juga luar biasa.Mereka mendukung penuh ihtiar sekolah untuk meloloskan anak-anaknya hingga ke jenjang lomba tertinggi. Di rumah, anak-anak Olimpiade ini masih diasah oleh guru les yang bermutu.

Sebaliknya, hal yang kontras terjadi di “sekolah kere” dalam mempersiapkan siswa olimpiadenya. Jangan harap sekolah kere ini memiliki alokasi dana khusus untuk pelatihan olimpiade. Biasanya para calon peserta olimpide di “sekolah kere” ini ditunjuk satu minggu sebelum bertanding. Mereka tidak begitu paham tentang medan lomba yang akan mereka ikuti. Pelatih mereka adalah guru mereka sendiri, yang tidak memiliki pengalaman juara olimpiade dan sudah kelelahan serta tidak fokus karena harus berbagi waktu dan energi dengan kelas reguler. Jangan tanya tentang asupan gizi atau suplemen, makan nasi padang dan minum segelas aqua sudah mewah bagi mereka. Yang penting kenyang. Mereka hanya memiliki semangat namun tidak memperoleh porsi latihan yang berkualitas.

Di mana letak nalaritas keadilan jika dua kutub dengan kasta berbeda dipertandingkan? Hanya mukjizat yang bisa mengangkat “sekolah kere” menjadi juara dan mengalahkan sekolah kaya. Hanya siswa “sekolah kere” bertalenta luar biasa  yang bisa muncul ke permukaan dan itu biasanya 10 tahun sekali karena harus menunggu bakat alam pembawa keberuntungan.

So, … masih layakkah olimpiade akademik atau lomba mapel diselenggarakan?

(Penulis adalah Guru Bahasa Inggris SMPN 3 Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, lulusan Pasca Sarjana (S2) UNESA Surabaya, Jurusan Pendidikan dan Sastra Inggris)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *