Ekonomi Pertanian

SUSANTO : Penggagas Rice Mill dan Light Trap, “Tingkatkan Pangan Bebas Bahan Kimia”

NGANJUK – ANJUKZONE – Pertanian dan peternakan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Kedua bidang tersebut, satu sama lain saling terkait. Hanya tergantung kepada faktor manusianya, mampu mengelolanya atau tidak. Apabila ada kemauan, niscaya, prospek pertanian di negeri kita dapat bersaing dengan negara luar, untuk harga gabah Indonesia bila disetarakan dengan rupiah, Issuer Default Rating (IDR) Vietnam Rp 2200/kg, Autralia Rp 1980/kg, Thailand Rp 2790/kg. Dengan nilai setara rupiah tersebut, negara-negara itu dapat memproduksi gabah 1 kg. Sedangkan di Negara kita, untuk dapat memproduksi gabah 1kg dibutuhkan biaya Rp 4700 dari harga potokan pemerintah (HPP).

Dari perbandingan angka tersebut jelas, petani di negara kita akan terus kalah dari negara-negara tersebut, karena kalah bersaing.

Dengan demikian, pemerintah justru dengan mudah mengimpor beras dari luar negeri, karena harga lebih murah. Di negara-negara tersebut sudah didukung mekanisme modern, manajemen professional, pekerjaan dikerjakan bersama-sama, dan petani menjadi boss tunggal. “Bagaimana dengan sistem pertanian di Negara kita?”

Sebenarnya di Negara kita sudah memiliki sistem “gotong royong” yang telah lama berkembang. Ini merupakan kekuatan yang luar biasa bila dikelola dengan baik, bahkan kekuatan itu belum kita ekploitasi sepenuhnya.

Untuk itu, mari bersatu, membangun infrastruktur pangan yang bisa menjadi pondasi pertanian kita untuk masa-masa mendatang, guna menandingi kekuatan produksi pangan dari luar.

Untuk itu, sebagai petani Indonesia dibutuhkan kerja keras dan cerdas untuk membangun sistem pertanian modern.

Susanto, pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk, menyampaikan, ada hal menarik dari yang pernah ia kerjakan. Mengaplikasikan sebuah mekanisme terapan dalam di bidang pertanian. Diantaranya, light trap insect, suatu alat yang sangat efektif, sehat dan berkelanjutan untuk mengendalikan hama tanaman. Ini sebagaimana dikampanyekan oleh Food Agriculture Organization (FAO), bahwa pengendalian hama tersistem seperti itu dapat menjaga ekosistem, petani, dan konsumen tetap sehat.

Light trap insect adalah lampu dimana saat malam hari menyala. Dengan adanya cahaya tertentu pada lampu yang di bawahnya terdapat bak air bercampur ditergen, efektif sebagai perangkap serangga.

Berikutnya, petani melengkapi dengan rice mill praktis. Alat penggiling padi menjadi beras ini, tanpa membutuhkan dana cukup besar, namun dapat memenuhi kebutuhan petani. Selain itu, rice mill praktis tanpa membutuhkan gudang atau tenaga kerja lebih banyak. Cukup dikerjakan satu orang, mesin sudah bisa dijalankan untu memproduksi beras sendiri.

Menariknya, dari mesin rice mill tersebut, sekam secara otomatis terpisah dan hancur. Sekam tersebut sangat bagus untuk makanan ternak. Artinya, petani dapat memiliki dua pekerjaan sekaligus, yakni sebagai petani dan peternak dari hasil pertaniannya sendiri. Dengan demikian, biaya operasional bisa ditekan semaksimal mungkin, untuk mendapatkan keuntungan lebih banyak.

Belum lagi, dari ternak yang dimiliki dapat memproduksi pupuk sendiri yang didapat dari kotoran ternak.

Di sini tampak bahwa, petani tidak hanya mengandalkan produksi padi, melainkan juga hasil ternak. Apabila terjadi kemerosotan harga, petani masih dapat diselamatkan dari hasil ternaknya, sehingga padi masih bisa ditimbun, untuk dijual dalam kondisi harga stabil.

Selain itu, hasil padi dari proses tanam secara alami, akan menghasilkan pangan yang bebas dari kandungan bahan kimia. Lahan juga menjadi subur karena mendapatkan pupuk secara alami pula. Petani dapat menghemat biaya operasional, lantaran dari proses tanam hingga pasca panen tidak membutuhkan obat-obatan pembasmi hama, karena menggunakan light trap. Sedangkan proses pemupukan, petani menggunakan kotoran hewan, sehingga kondisi lahan semakin sehat, karena tidak lagi menggunakan pupuk kimia. (sukadi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *