Entertainment News Wisata

Indahnya Nikmati Potensi Wisata Buatan Tulangbawang Barat

“Kaya Legenda dan Panorama Alam”

 

TUBABA – ANJUKZONE – Kabupaten Tulangbawang Barat  yang lazim disebut Tubaba, merupakan kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Tulangbawang, Provinsi Lampung. Kabupaten Tulangbawang Barat yang diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Indonesia, Mardiyanto, pada 29 Oktober 2008 berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 50 tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Tulangbawang Barat di Provinsi Lampung tanggal 26 November 2008, sebagai kabupaten baru.  Berikut adalah hasil liputan dan wawancara ANJUKZONE dengan seorang tokoh budayawan, H. Damansyah Ibrahim, penduduk asli Tubaba awal Januari 2018 lalu.

Infrastruktur kabupaten ini masih terbatas. Penduduk Kabupaten Tulangbawang Barat didominasi warga pendatang transmigran dari daerah Jawa, Sunda dan Bali dengan mata pencarian utama penduduk adalah berkebun karet, sawit dan bertani.

Tugu Rato Nago Basanding

Seperti halnya beberapa daerah di Provinsi Lampung, Kabupaten Tubaba banyak dihuni suku pendatang seperti Jawa dan Sunda yang mayoritas beragama Islam dan suku bali yang menganut agama Hindu. Namun suku mayoritas di Tubaba adalah suku Jawa sehingga bahasa Jawa sangat kental digunakan oleh penduduk sebagai bahasa pengantar sehari-hari.

Kabupaten Tulangbawang Barat terdiri atas delapan kecamatan, yaitu Kecamatan Tulangbawang Tengah, Kecamatan Lambu Kibang, Kecamatan Gunung Terang, Kecamatan Tumijajar, Kecamatan Tulangbawang Udik, Kecamatan Gunung Agung, Kecamatan Way Kenanga, dan Kecamatan Pagar Dewa.

Wawancara dengan tokoh adat setempat H. Damansyah Ibrahim

Menariknya, kendati sebagai kabupaten baru, Tubaba mulai berbenah dalam segala bidang, antara lain dalam bidang pariwisata, budaya, pertanian, dan sebagainaya. Tampak pula, bangunan gedung menjulang, serta akses jalan beraspal menjurus ke berbagai pelosok dan kota.

Damasyah Ibrahim menuturkan, dalam sektor pariwisata, terdapat dua patung raksasa, yang dibangun di pertigaan jalan menuju tengah kota, yakni patung Migo Pak dan patung Tugu Rato Nago asanding .

“Patung Migo Pak atau marga empat menggambarkan empat marga yang masih eksis di Tubaba hingga saat ini. Masing-masing adalah Marga Buay Bulan, Buay Aji, Buay Temago’an, dan Suway Umpu,” jelas Ibrahim Damansyah di kediamannya, Desa Kartaraharja, Kecamatan Tulangbawang Udik, Kabupaten Tulangbawang Barat.

*Migo Pak, Legenda Empat Marga Tulangbawang Barat

Keempat marga tersebut hidup dalam satu federasi atau yang disebut marga. Kendati demikian, di antara keempat marga tersebut bisa hidup berdamping dan saling hormat menghormati satu dengan yang lain.

Tidak jauh dari patung Migo Pak ini, terdapat bangunan megah pula, yakni patung Tugu Rato Nago Basanding, yang berjarak sekitar delapan kilometer dari patung Migo Pak.

Menurutnya, patung Tugu Rato merupakan sebuah karya seni yang menggambarkan sebuah kereta, dalam bahasa lampung disebut Rato. Hanya, kereta ini tidak ditarik oleh kuda, melainkan oleh dua naga raksasa.

Dalam adat masyarakat setempat, Rato dengan Nago Basanding pada jaman dahulu digunakan oleh adat setempat untuk mengangkut sepasang pengantin, menuju ke pelaminan.

“Cerita ini masih berkembang dengan baik hingga sekarang dalam prosesi pernikahan adat orang Tubaba,” tegas pensiunan guru ini.

Islamic Center Tulangbawang Barat

Keuninkan lain adalah bangunan Islamic Center dan Balai Sesat Agung atau Balai Adat, tidak jauh dari  Tugu Rato. Hanya berkendaraan sekitar lima menit sudah sampai di lokasi megah di Tubaba itu.

Suharto, penduduk Desa Tumijajar, Jalan Ki Hajar Dewantara, Tumijajar, Tulangbawang Barat menyebut, kabupaten yang baru berumur 9 tahun di Provinsi Lampung itu bercita-cita merumuskan identitas budaya sendiri, sebagai kabupaten yang mayoritas penduduknya adalah transmigran.

Proyek itu ditandai dengan pembangunan dua gedung monumental di kompleks yang sama yaitu Islamic Center yang diberi nama Masjid 99 Cahaya dan Sesat Agung atau Balai Adat.

Seorang arsitek bernama Andramatin adalah perancang kedua bangunan yang dikelilingi danau buatan itu.

Masjid dirancang vertikal sedangkan Balai Sesat Agung dibangun horisontal. Keduanya melambangkan prinsip hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama, yang merupakan prinsip agama Islam.

“Masjid itu tidak berkubah dan tak bermenara, seperti lazimnya, serta tak memasang kaligrafi Allah, di pucuknya,” ujar Kepala SMAN 2 Tumijjar,  Tulangbawang Barat itu.

Kawasan Taman Agrowisata di Tulangbawang Barat

Belum lengkap keunikan kota baru Tubaba. Setelah menikmati keindahan bangunan megah dan artistik, masih ada obyak taman agrowisata Tulangbawang Barat. Ini merupakan salah satu ikon yang di bangun oleh pemerintah Kabupaten Tulangbawang Barat.

Herawati, penduduk setempat menyampaikan, tempat wisata ini terletak di Desa Pulung Kencana, Kecamatan Tulangbawang Tengah Kabupaten Tulangbawang Barat.  Taman agrowisata Pulung Kencana Tulangbawang Barat dibangun dengan sebagai tujuan wisata agro sekaligus sebagai pusat penelitian budidaya tanaman buah unggul.

Berbagai jenis buah varietas unggul ditanam di Taman Agrowisata Tulangbawang Barat ini. Fasilitas pendukung pun mulai dilengkapi, guna memberi kenyamanan bagi wisatawan.

“Pengunjung yang datang tidak sebatas berwisata, melainkan bertujuan belajar budidaya tanaman hortikultura. Biasanya yang dating ke objek agrowisata ini adalah para pejabat dan pelajar,” jelas guru SMKN Tulangbawang Tengah ini.

Kawasan Taman Agrowisata di Tulangbawang Barat yang penuh dengan tanaman ini mulai terlihat menawan, di sana penikmat keindahan bisa menghabiskan waktunya untuk menghirup udara sejuk dan segar. Sangat cocok untuk melepas kepenatan dan kejenuhan akibat rutinitas sehari-hari. (sukadi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *