Hukum Kriminal News

Kapolres Nganjuk Masih Dalami Dugaan Oknum Kiai Cabul

NGANJUK – ANJUKZONE – Terkait kasus dugaan pencabulan yang dilakukan oleh oknum kiai  salah satu pondok pesantren di Kecamatan Baron terhadap santri perempuannya, Kapolres Nganjuk, AKBP Dewa Nyoman Nanta Wiranta menyampaikan, hingga saat ini, pihak kepolisian masih terus mendalami dan mengklarifikasi kebenaran dari laporan yang telah masuk. Pihaknya harus terus mengecek, hingga kasus dugaan pencabulan oknum kiai terhadap santri perempuannya itu informasinya benar atau justru sebaliknya.

“Ini masih terus kami cek dan klarifikasi atas kebenaran kasus tersebut, jadi kami belum bisa memberikan penjelasan secara detail,” terang Kapolres, diwawancarai sejumlah wartawan pada acara launching LUPS dan TUMOS di Mapolres Nganjuk, Sabtu, 24 Februari 2018.

Kapolres juga belum bisa memberikan keterangan berapa saksi yang telah dimintai keterangan, serta berapa orang yang telah datang melapor ke Mapolres. Lebih-lebih ditanya tentang dugaan sementara, serta pemeriksaan terhadap pelaku, kapolres mengatakan masih didalami dulu.

“Semua masih didalami dulu, infonya benar atau tidak,” tegasnya.

Informasi yang diterima ANJUKZONE, telah terjadi dugaan pencabulan oknum kiai salah satu pondok pesantren di wilayah Kecamatan Baron terhadap beberapa santri perempuannya. Dugaan pencabulan ini terungkap sekitar satu bulan lalu. Saat itu, salah satu korban, In, 14, sedang mengaji di ponpes setempat. Tiba-tiba,  pelaku berinisial IK marah-marah dan menyeret In keluar lalu ditampar.

Menurut Jum, 44, (orang tua guru nganji korban), warga Bandar Kedungmulyo, Jombang saat mengantar anaknya untuk melaporkan kasus dugaan pencabulan oknum kiai ke Mapolres Nganjuk, Jumat siang, 23 Februari 2018. Setelah ditampar, dia (In) langsung memeluk anak saya (guru ngaji In). Sambil dipeluk, dia lalu cerita ke anak saya, tentang kejadian yang baru saja menimpanya.

Menurut Jum, korban In dititipkan oleh keluarganya ke pondok pesantren di Kecamatan Baron, tempat kiai cabul sejak berumur 7 tahun. Di rumah kiai, korban tidak bersekolah, hanya belajar ngaji hingga umurnya sekarang 14 tahun.

Kepada anaknya yang guru ngaji di pondok itu, lanjut Jum, korban bercerita jika pernah diperlakukan tidak senonoh oleh sang kiai. Bahkan, dia juga pernah dikasih lihat video porno sebelum dikerjai oleh sang kiai.

“Ada tiga temannya yang lain yang dibegitukan,” imbuh Jum, mengulangi pengakuan In kepadanya. Jika benar pengakuan In tersebut, maka setidaknya ada empat santri perempuan yang diduga jadi korban ulah bejat IK.

Merasa kasihan dan ingin menegakkan kebenaran, Jum langsung menemui beberapa kerabat sang kiai untuk mengadukan dugaan perbuatan cabul ini. “Saya sudah musyawarah dengan keluarganya, termasuk menantu saya, karena dia juga kerabat kiai,” ucapnya.

Setelah mempertimbangkan segala hal, usai musyawarah Jum langsung berangkat ke lembaga independen perlindungan perempuan, Woman Crisis Center (WCC) Nganjuk, untuk mengadukan permasalahan ini.

“Begitu saya adukan, WCC langsung merespon. Korban juga langsung dimintai keterangan. Selanjutnya kasusnya dibawa ke Polres Nganjuk,” paparnya. (sukadi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *