News Politik

Black Campaign Ancam Pemilih Pemula

NGANJUK – ANJUKZONE – Black Campaign atau dikenal dengan istilah kampanye hitam adalah suatu jenis kampanye jahat , biasanya dihembuskan ketika masuk waktunya pemilihan kepala daerah atau bupati dan wakil bupati. Seperti akhir-akhir ini sering dihembuskan dari orang tidak bertanggungjawab, kampanye hitam diarahkan kepada pasangan calon, sebagai lawan politiknya.

Menurut Yudha Harnanto, SH, komisioner KPUD Nganjuk, hingga saat ini belum ada regulasi khusus yang mengatur masalah kampanye hitam. Yang ada baru sebatas regulasi yang mengatur berita bohong dan fitnah, yang masuk ranah pidana umum.

“Bila ini terkait pelkada, brita bohong dan fitnah menjadi kewenangan Panwaslu untuk menindaklanjuti, sedangkan dari KPU hanya sebatas antisipasi dari perspektif penyelenggaraan,” terang Yudha dalam diskusi terbuka tentang Tangkal Kampanye Hitam antara KPU dengan wartawan Nganjuk, Kamis, 22/02/2018 lalu.

Meski demikian, selain merugikan pasangan calon, sebagai objek berita bohong, kampanye hitam juga dapat membunuh karakter seseorang. Masalahnya, kampanye hitam berbeda dengan kampanye negatif.

“Kalau kampanye negatif masih bisa diketahui sumbernya dan diluruskan kebenarannya, tapi kampanye hitam berawal dari fitnah atau berita bohong dari mulut ke mulut yang bersumber dari mana saja, sehingga sulit dibuktikan,” tegasnya.

Terlebih bagi pemilih pemula, yang rata-rata belum pernah masuk dalam dunia politik, sangat rentan terpengaruh berita bohong. Pemilih pemula belum pernah menggunakan hak pilihnya, namun begitu masuk dunia politik, mereka sudah dihadapkan adanya kampanye hitam.

Untuk itu, pemerintah mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat menjadi pemilih cerdas pada pesta demokrasi. Yakni menjadi pemilih yang menggunakan akal sehatnya untuk menentukan pilihannya, bukan berdasarkan emosi.

Yudha menyebut, sebagian besar kondisi masyarakat Indonesia adalah masyarakat ‘meritokrasi’, yakni masyakat yang memiliki perilaku kolektif tanpa ada komando, namun bisa memiliki perilaku yang seragam.

“Apabila perilaku kolektif itu menjurus pada kampanye hitam dan itu dianggap kebenarannya, maka tanpa komando, mereka bisa memiliki perilaku secara kolektif untuk menerima berita bohong tersebut,” pungkasnya. (sukadi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *