Berita Edukasi

Siswa Pinsan Takut Diimunisasi DPT

NGANJUK – ANJUKZONE – Gara-gara takut melihat jarum suntik, salah seorang siswi di SMPN 1 Bagor pinsan. Siswi kelas IX, Shalesa Intan Yuliriati ini tiba-tiba lemas dan tidak sadarkan diri setelah mendapat suntikan imunisasi Defteri yang dilakukan oleh Tim Medis Puskesmas Kecamatan Bagor, Kamis, 22/02/2018.

Awalnya, Shalesa memang menolak untuk diimunisasi setelah melihat temannya ada yang merintih kesakitan usai ditusuk jarum suntik. Hingga tiba gilirannya, beberapa guru dan petugas berusaha membujuk, namun dia tetap menolak. Murid yang satu ini semakin terlihat pucat, meski beberapa guru memaksa membawanya kepada tim medis.

Setelah berhasil membujuknya, guru pun tetap memegangi kepala dan lengannya ketika tim medis mulai memasukkan ujung jarum suntik. Setelah selesai, Shalesa kembali ke tempat duduk, namun tiba-tiba lemas dan tidak sadarkan diri. Teman-temannya yang ada di dekatnya langsung menahannya sebelum terjatuh dan meletakkan di atas kursi.

Segera tim medis yang masih berada di dalam kelas bersama beberapa guru berusaha menolongnya hingga siuman kembali.

Ketakutan terhadap jarum suntik juga dialami sejumlah siswa lain. Beberapa guru dibantu petugas dari Koramil Kecamatan Bagor terpaksa membantu untuk membujuk sejumlah siswa yang berusaha berontak, tidak mau diimunisasi. Bahkan petugas sempat kejar-kejaran dengan siswa sebelum dibawa ke tim medis. Meski demikian, mereka tetap pasrah, meskipun merasa ketakutan.

Kartini, salah tim medis Puskesmas Kecamatan Bagor menyampaikan, imunisasi Difteri dilakukan serentak di seluruh wilayah Indonesia, sejak Kementerian Kesehatan menetapkan status KLB terhadap Difteri. Untuk itu, anak-anak mulai usia 1 tahun hingga 19 tahun harus mendapatkan imunisasi agar tidak terjangkit penyakit berhaya tersebut. “Setidaknya tiap orang mendapat tiga kali imunisasi, sejak Februari, lantas Juli, terakhir Nopember 2018,” terang Kartini saat melakukan imunisasi terhadap siswa SMPN 1 Bagor, Kamis, 22 Februari 2018.

Menurut Kartini, penyakit ini memiliki masa inkubasi 2-5 hari dan akan menular selama 2-4 minggu, memiliki gejala antara lain demam, batuk, sulit menelan, selaput putih abu-abu (pseudomembran), pembengkakan pada leher, sulit bernafas.

Penyakit ini sangat menular dan dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani secara cepat. Namun penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi rutin yang lengkap.

Untuk itu, bagi anak-anak yang hari ini tidak masuk atau menghindar tidak mau diimunisasi, tim medis bersama pihak sekolah tetap akan mendata dan memberikan imunisasi.

“Ini untuk kepentingan kesehatan anak-anak sendiri, jangan sampai terkena penyakit mematikan ini,” pungkasnya. (skd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *