Lintas Daerah News

Begini Rentenir Jerat Leher Nasabah

NGANJUK – ANJUKZONE – Bank Thithil atau Bank Plecit, merupakan fenomena ekonomi-sosial yang sampai saat ini masih terjadi di pasar-pasar tradisional. Para pelaku Bank Thithil ini memiliki semangat yang tinggi dalam melakukan usahanya meminjamkan uang, dengan cicilan yang ringan per hari, per lima hari sekali, atau per minggu. Namun bila dihitung besaran bunganya terlihat sangat tinggi, melebihi bunga bank yang legal.

Di sisi lain para nasabah Bank Thithil yang nota-bene adalah para pedagang kecil, pedagang kaki lima, sudah menganggap keberadaan Bank Thithil ini amat dibutuhkan, demi kelangsungan usaha mereka. Ketergantungan mereka terhadap Bank Thithil dikarenakan adanya kemudahan prosedur, kecepatan realisasi pinjaman, tanpa agunan dan tidak ada sanksi, bila pinjaman nunggak atau tidak bisa mengangsur.

Jaminem, 65, salah seorang pemilik warung, Dusun Kendal, Desa Ngrengket, Kecamatan Sukomoro. Dia menjadi nasabah Bank Thithil sudah puluhan tahun untuk menghidupi warung kopi dan makanan kecil, dagangannya tersebut. Bila kehabisan modal, dia cukup menunggu pegawai Bank Thithil mampir di warungnya. Lantas dia cukup menyebutkan nominal pinjaman yang diinginkan. Awalnya, dia menyodorkan KTP miliknya atau pinjam dari KTP orang lain sebagai tanda transaksi. Biasanya, nasabah pinjam uang tidak begitu banyak, hanya berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 500 ribu untuk 12 kali angsuran. Hanya angsuran tidak dibayar tiap bulan, melainkan tiap lima hari sekali atau seminggu sekali. Sehingga tiap angsuran harus membayar Rp 10 ribu bila dia berhutang Rp 100 ribu, atau bayar Rp 50 ribu per angsuran bila dia berhutang Rp 500 ribu.

Hanya saat pencairan, Jaminem tidak menerima utuh, harus dipotong 10 persen di awal dari total pinjaman sebagai biaya adminitrasi.

“Kalau pinjam Rp 100 terimanya Rp 90 ribu, kalau pinjam Rp 500 ribu terimanya Rp 450.000 ribu, tapi bayar angsurannya tetap,” terangnya.

Sehingga bila ditotal selama 12 kali angsuran, untuk jumlah pinjaman Rp 100 dia harus mengembalikan Rp 130 dalam jangka waktu maksimal 3 bulan. Sedangkan untuk jumlah pinjaman Rp 500 ribu, dia harus melunasi Rp 650 ribu dalam jangka waktu maksimal 3 bulan.

“Itu kalau angsuran dibayar seminggu sekali, kalau lima hari sekali, tidak sampai 3 bulan sudah lunas,” tegasnya.

Namun demikian Jaminem harus menanggung angsuran sebanyak 5 hingga 6 bank yang berbeda. Sehingga dia hampir setiap hari didatangi pegawai Bank Thithil, menagih hutang dan berlangsung terus menerus hingga bertahun-tahun.

“Biasanya kalau mendekati lunas, oleh pihak bank ditawari lagi, hanya dipotong sisa angsurannya, dengan proses yang sama. Pokoknya tidak ribet kalau hutang di bank harian itu. Cuma cara ngangsurnya yang mumet, karena dari hasil jualan kopi tidak cukup untuk membayar bank (Bank Thithil,red),” keluhnya sambil menunjukkan bukti angsuran yang disimpan dalam lacinya.

Hal yang sama dialami Raminah, 80, penjual buah Srikaya dan mangga Kuweni di Pasar Lama, Kelurahan Mangundikaran, Kecamatan Nganjuk. Tergantung pada Bank Thithil sudah puluhan tahun, sejak nenek renta itu mulai berjualan hingga sekarang. Hanya dia tidak berani banyak-banyak hutang pada Bank Thithil. Lantaran dari hasil penjualannya tidak selalu mendapatkan uang. Bahkan barang dagangannya sering tidak laku lantaran terburu membusuk.

Raminah pinjam uang di Bank Thithil tidak untuk menambal modal dagangannya, melainkan untuk biaya hidup sehari-hari. Lantaran, dia sering pulang tidak membawa uang untuk beli makanan. Bila mendapat uang, langsung dibuat untuk membayar rentenir yang setiap hari mendatangi di tempat berjualan. Karuan saja, sang nenek ini sering ngemplang, tidak bisa mengangsur.

Diseneni (pegawai Bank Thithil,red) niku pun biasa, la pripun, wong gak enek sing dinggo bayar, yo meneng ae nek diseneni, sesuk mesti teka meneh (Dimarahi  itu sudah biasa, gimana lagi, memang tidak ada yang dibuat bayar, iya diam saja kalau dimarai, besuk pasti datang lagi),” jelas Raminem.

Berbeda dengan Sumali (bukan nama sebenarnya), mantan pelaku Bank Thithil, asal Desa Ngrengket, Kecamatan Sukomoro. Menurutnya, para pelepas modal dalam Bank Thithil merasa memberi bantuan kepada pedagang yang membutuhkan dana cepat tanpa syarat. Mereka merasa keuntungan yang mereka dapatkan merupakan kewajaran dan keseimbangan atas jerih payah mereka, karena setiap hari berjalan kaki melayani transaksi dan menagih angsuran sedapat-dapatnya dari para pedagang kecil secara jemput bola.

“Merasa, bunga tinggi yang mereka peroleh karena resiko yang mereka hadapi lebih besar dari bank konvensional, seperti tidak adanya agunan sehingga tidak ada sanksi bagi para nasabah yang tidak mampu membayar utangnya,” kilah Sumali yang mengaku menjadi pegawai Bank Thithil selama tiga tahun.

Hanya Sumali mengelak, Bank Thithil disamakan dengan rentenir, yang keberadaannya menjerat penggunanya. Karena hubungan antara pelepas modal dengan para pedagang kecil, sangat akrab. Karena pelepas modal sangat toleran bila ada nasabah yang nunggak cicilan.

“Biasa, para nasabah itu nunggak cicilan, ‘bilang besuk ya,’ ‘belum ada duit,’ ‘dilewati aja,’ dan sebagainya,” katanya. (sukadi)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *