Berita Edukasi

24 Suspect Difteri, 2 Positif, 1 Meninggal

NGANJUK – ANJUKZONE – Setelah Imunisasi campak dan rubella MR, kembali pemerintah secara serentak melakukan imunisasi Difteri terhadap anak-anak, mulai usia 1 tahun hingga 19 tahun, Setelah penyakit mematikan ini kembali mewabah di Indonesia. Kementerian Kesehatan bahkan sudah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) karena penyakit mematikan yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae ini telah memakan puluhan korban jiwa setidaknya di 20 provinsi.

Data Kementerian Kesehatan menujukkan sampai dengan November 2017, ada 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat 622 kasus, 32 diantaranya meninggal dunia, termasuk di Jawa Timur.

Di Nganjuk sendiri, belakangan terdeteksi sedikitnya 27 orang dinyatakan mengidap Difteri, yakni 24 orang dinyatakan suspect, 2 orang dinyatakan positif, dan 1 orang meninggal.

Salah satu siswa SMPN 1 Bagor berontak, menolak diimunisasi Difter. Terpaksa minta bantuan guru dan petugas agar tidak melarikan diri (foto-sukadi)

Kartini, Bidan Puskesmas Kecamatan Bagor menyampaikan, imunisasi Difteri dilakukan serentak di seluruh wilayah Indonesia, sejak Kementerian Kesehatan menetapkan status KLB terhadap Difteri. Untuk itu, anak-anak mulai usia 1 tahun hingga 19 tahun harus mendapatkan imunisasi agar tidak terjangkit penyakit berhaya tersebut. “Setidaknya tiap orang mendapat tiga kali imunisasi, sejak Februari, lantas Juli, terakhir Nopember 2018,” terang Kartini saat melakukan imunisasi terhadap siswa SMPN 1 Bagor, Kamis, 22 Februari 2018.

Menurut Kartini, penyakit ini memiliki masa inkubasi 2-5 hari dan akan menular selama 2-4 minggu, memiliki gejala antara lain demam, batuk, sulit menelan, selaput putih abu-abu (pseudomembran), pembengkakan pada leher, sulit bernafas.

Penyakit ini sangat menular dan dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani secara cepat. Namun penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi rutin yang lengkap.

“Difteri itu gejalanya radang saluran nafas, ada selaput putih dan gampang berdarah, dan toksinnya itu yang bahaya, bikin kelainan jantung, meninggal,” katanya.

Difteri menimbulkan gejala dan tanda berupa demam yang tidak begitu tinggi, 38ºC, munculnya pseudomembran atau selaput di tenggorokan yang berwarna putih keabu-abuan yang mudah berdarah jika dilepaskan, sakit waktu menelan, kadang-kadang disertai pembesaran kelenjar getah bening leher dan pembengakan jaringan lunak leher yang disebut bullneck.  “Adakalanya disertai sesak napas dan suara mengorok.” Tegasnya.

Difteri sebenarnya merupakan penyakit lama yang sudah ada vaksin penangkalnya yang disebut vaksin DPT. Idealnya, vaksin ini diberikan minimal tiga kali seumur hidup sejak berusia dua tahun. (skd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *