Nasional News Politik

Kunjungan Kerja Anggota MPR RI Budiono “Pilkada Nganjuk Rawan Bentrok dan Golput”

NGANJUK – ANJUKZONE – Anggota MPR RI H. A. Budiono, M.Ed., mengkawatirkan bakal terjadinya kerawanan selama massa kampanye pemilihan bupati dan wakil bupati Nganjuk 2018, serta munculnya golongan putih (golput) saat pencoblosan. Karena, selama masa kampanye, masing-masing pasangan calon (paslon) banyak mendatangkan massa dari berbagai elemen dan latar belakang masyarakat. Terlebih, bila massa kampanye melibatkan organisasi besar, seperti perguruan silat, organisasi massa religi, serta kepemudaan lain.

“Pengerahan massa kampanye dapat minimbulkan kerawanan bila mereka berkumpul,” terang  wakil rakyat asal DPD Dapil Provinsi Jawa Timur, saat berkunjung ke Kantor KPUD Nganjuk, Senin, 19/02/2018.

Beruntung, pilkada Nganjuk tidak melibatkan paslon dari incumbent atau pejabat birokrasi, sehingga kerawanan dapat diminimalisir. Lantaran tingkat netralitas para calon pemilih bisa ditekan.

Selain kekawatiran terhadap kerawanan pemilu, Budiono juga menyebut menurunnya tingkat partsipasi masyarakat untuk mendatangi bilik-bilik tempat pemungutan suara (TPS). Belajar dari pemilukada periode lalu, di Nganjuk dimenangkan oleh “golongan putih”, yakni sekitar 37 persen dari total pemilih. Sedangkan total pemenang saat itu hanya mendapat suara sekitar 32 persen dari total pemilih.

“Di Nganjuk, periode pilakada sebelumnya, tingkat partisipasi masyarakat untuk datang ke TPS rendah, ini pekerjaan rumah bagi KPU agar lebih giat sosialisasi ke masyarakat agar tidak lagi dimenangkan oleh golput,” tegas Budiono saat melakukan tugas konstitusional pengawasan  dan upaya penguatan  lembaga dalam perspektif efektifitas otonomi daerah khususnya berkaitan dengan tugas dan kewenangan KPUD Nganjuk dalam penyelenggaraan pemilihan bupati dan wakil bupati nganjuk 2018.

Lebih-lebih pemilihan bupati dan wakil bupati, intensitas bertemu antara calon dengan masyarakat sangat terbatas. Berbeda dengan pemilihan legislative, tingkat tatap muka antara yang dipilih dengan yang memilih lebih leluasa. Apalagi, jumlah calon legislative cukup banyak, sehingga memudahkan untuk sosialisasi secara langsung.

“Bahkan ada masyarakat yang belum sempat memastikan pilihannya, karena mereka tidak tahu siapa yang harus dipilih. Ini salah satu akibat timbulnya golput,” ujarnya.

Kesempatan yang sama, Ketua KPUD Nganjuk, Agus Rahman Hakim menyampaikan, untuk mengantisipasi jumlah golput, pihaknya sudah bertidak cukup lama. Melalui pencocokan data sebelumnya dengan data yang ada sekarang ini.

“Anggota KPU sudah melangkah dengan mendatangi rumah ke rumah, sambil sosialisasi untuk mengantisipasi jumlah golput,” terang Agus. (skd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *