Entertainment News Wisata

Cek-Cek Molek dan Mitos Sendang Dua Warna “Legenda Negeri Ngatas Angin”

NGANJUK – ANJUKZONE – Sekitar tahun 808 H atau 1404 M, Syeh Jumadil Qubro datang menghadap Sultan Muhammad I, Raja Turki setelah berdagang dan melakukan dakwah agama Islam di Pulau Jawa. Di hadapan Raja Turki tersebut, Syeh Jumadil Qubro melaporkan semua temuan dan pengalamannya selama menyebarkan agama Islam di pulau Jawa, yang masyarakatnya masih banyak menganut agama Budha, Hindu dan aliran keperyacayaan yang begitu kuat, sehingga sulit dipengaruhi.

Kepada Raja Turki, Syeh Jumadil Qubro minta bantuan agar penyebaran agama Islam di pulau Jawa dibantu sejumlah tokoh ulama yang memiliki karomah dan ilmu yang tinggi dari wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara.

Sedikitnya ada sembilan (9) ulama yang diutus ke Pulau Jawa, yaitu;

(1) Syeh Maulana Malik Ibrahim, ulama dari Turki ahli tata negara dan pengobatan, berdakwah di Gresik;

(2) Maulana Muhammad Alayudin, ulama dari Palestina, ahli pengobatan, berdakwah di Jawa Barat;

(3) Maulana Muhammad Ali Akbar, ulama dari Iran (Persia), ahli pengobatan  dan pertanian, berdakwah di Jawa Tengah;

(4) Maulana Malik Isroil, ulama dari Turki ahli tata negara, berdakwah di Jawa Tengah;

(5) Maulana Hasanuddin, ulama dari Palestina, orang sakti, berdakwah di Jawa Barat;

(6) Syeh Sayid Jumadil Qubro, ulama dari Samarkhan Azarbaijan, ahli militer dan orang sakti, berdakwah di Majapahit;

(7) Maulana Iskak, ulama dari Samarkhan, putra Syeh Sayyid Jumadil Qubro, ahli pengobatan, berdakwah di Jawa Timur;

(8) Maulana Muhammad Mahrobi (Sunan Geseng), ulama dari Maroko Afrika Utara, kekar, kuat dan sakti, berdakwah di Jawa Tengah; dan

(9) Syeh Subakir, ulama dari Iran (Persia), ahli supranatural – mengusir makhluk halus, dakwah di seluruh Pulau Jawa – kembali ke Persia setelah tugas mengusir makhluk halus selesai.

Sesampainya di pantai utara Pulau Jawa kesembilan ulama tersebut memutuskan menghadap Raja Brawijaya (Prabu Hayam Wuruk) – Raja Majapahit. Mereka minta ijin untuk menyebarkan agama Islam di seluruh wilayah Pulau Jawa, terutama di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Mereka diterima dengan baik sebagai tamu kehormatan dan diberi keleluasaan untuk menyebarkan agama Islam. Namun, melihat lokasi Pulau Jawa yang begitu luas, mereka membagi diri menjadi tiga kelompok, di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan masing-masing kelompok terdiri dari tiga ulama di bawah seorang pemimpin Syeh Maulana Malik Ibrahim.

Sementara penyebaran agama Islam di sekitar istana kerajaan Majapahit dipimpin oleh Syeh Jumadil Kubro dengan pusat penyebaran di Troloyo/Trowulan, Mojokerto.

Makam Syeh Malik Al-Atos (foto-sukadi)

Kerajaan Ngatas Angin

Dalam penyebaran agama Islam di wilayah Kerajaan Majapahit, Syeh Jumadil Qubro mengalami kesulitan karena pengaruh agama non muslim dan aliran kepercayaan yang begitu kuat dengan medan sangat sulit. Yang dia rasakan  masih seperti dulu sebelum beliau kembali ke Turki – minta bantuan. Akhirnya Syeh Jumadil Qubro meminta bantuan lagi kepada kedua adiknya, yaitu; Syeh Sayyid Malik Al Subro (Cek-Cek Molek) dan Syeh Sayyid Al Qubro untuk membagi wilayah penyebaran agama Islam di Kerajaan Ngatas Angin – Lereng Gunung Wilis. Kedua adik Syeh Jumadil Qubro ini dikenal ahli tasawuf, sakti dan sabar.

Meskipun sudah mendapatkan legitimiasi dari Raja Hayam Wuruk untuk menyebarkan agama Islam di Negeri Ngatas Angin tersebut, namun kedatangan adik-adik Syeh Jumadil Qubro tetap mendapatkan tantangan cukup berat dari penduduk setempat. Mereka adalah penganut agama non muslim dan aliran kepercayaan yang kuat juga.

Seperti halnya saudara tuanya, Syeh Sayyid Malik Al Subro pun akhirnya minta bantuan kepada saudara seperjuangannya dari Turki, yaitu; Syeh Sayyid Ngarfiah atau dikenal dengan nama Syeh Jenar dan Syeh Nahar.

Suatu hari Syeh Sayyid Malik Al Subro dibantu adiknya Syeh Sayyid Al Qubro, serta Syeh Sayyid Ngarfiah dan Syeh Nahar mendirikan sebuah surau di padepokan Cindelaras, dekat Candi Ngatas Angin (sekarang dikenal candi Ngetos). Namun usaha membangun surau Syeh Sayyid Malik Al Subro dan kawan-kawan selalu mendapat tantangan dari penduduk setempat. Pagi didirikan – sore harinya dirobohkan dan dibakar. Sore didirikan – pagi harinya sudah berupa puing-puing, begitu seterusnya. Hingga akhirnya Syeh Sayyid Malik Al Subro berhasil membekuk salah satu tokoh masyarakat – seorang bekel bernama Yuyu Rumpung dari Desa Maguan.

Kepada Syeh Sayyid Malik Al Subro, Yuyu Rumpung menantang adu kesaktian – memainkan berbagai senjata dan adu fisik. Namun usaha Yuyu Rumpung yang dibantu Bekel Cacing Anil dari Desa Teken, Bekel Kebo Ladrang dari Desa Pogalan, Bekel Celeng Srenggi dari Desa Tempel selalu kalah dan melarikan diri. Di Kerajaan Ngatas Angin, Yuyu Rumpung dan pengikutnya adalah penyembah Jin Bekasaan dari Hutan Nglarangan dan sangat ditakuti oleh penduduk setempat karena dikenal sebagai perampok yang sangat kejam.

Semenjak kepala perampok Yuyu Rumpung dan pengikutnya kalah, perlahan-lahan Syeh Sayyid Malik Al Subro dan pengikutnya mulai dikenal masyarakat Kerajaan Ngatas Angin. Syeh Sayyid Malik Al Subro yang ahli tasawuf dan dikenal sakti mandraguna, juga ahli pengobatan tersebut dikenal masyarakat setempat dengan sebutan Cek-Cek Molek (karena masyarakat waktu itu kesulitan menyebut kata-kata Syeh Sayyid Malik).

Berpuluh-puluh tahun Syeh Cek-Cek Molek mempengaruhi masyarakat Ngatas Angin untuk masuk Islam namun selalu mengalami kesulitan. Hanya beberapa orang saja yang berhasil berguru dan membaca dua kalimah syahadad, karena selalu diganggu oleh anak buah Bekel Yuyu Rumpung. Mereka tidak ragu-ragu menggunakan kekerasan bila ada warga yang berguru kepada Syeh Cek-Cek Molek. Yuyu Rumpung dan pengikutnya pun merasa terganggu dengan kehadiran Cek-Cek Molek, pasalnya ritual-ritual yang dipersembahkan di hadapan Raja Hutan Nglarangan – Jin Bekasaan, selalu gagal begitu mendengar kumandang adzan dari surau Cek-Cek Molek.

Suatu ketika Yuyu Rumpung dan pengikutnya menyabotase seluruh sumber air yang mengalir dari Lereng Gunung Wilis menuju Kerajaan Ngatas Angin. Tentu saja membuat para petani kesulitan air untuk mengairi sawahnya dan untuk kebutuhan sehari-hari. Hingga Raja Ngatas Angin, Raja Wengker turun tangan, namun seorang raja yang masih paman dari Prabu Hayam Wuruk – Raja Majapahit tersebut kesulitan menemukan sumber mata air baru. Pasalnya, semua sumber mata air sengaja disumbat dengan kekuatan magis dari Yuyu Rumpung. Mengetahui rakyatnya mengalami kekeringan sangat parah, banyak ternak dan tanaman yang mati, penyakit merajalela, Wengker mengeluarkan sayembara, ”Barang siapa yang bisa mengatasi kesulitan air di Kerajaan Ngatas Angin, bila laki-laki akan dijodohkan dengan putri semata wayangnya, Dewi Klodan. Tapi bila yang berhasil memenangkan sayembara adalah perempuan akan diangkat menjadi saudara Dewi Klodan.”

Akhirnya yang berhasil memenangkan sayembara adalah Yuyu Rumpung karena Syeh Cek-Cek Molek tidak bersedia mengikuti sayembara karena hadiah yang diberikan adalah seorang putri raja untuk dijodohkan sebagai istrinya. Syeh Cek-Cek sendiri sudah berjanji untuk tidak menikah, yang ada dihatinya hanyalah mengajarkan ilmu tasawuf dan segera mengislamkan orang-orang Kerajaan Ngatas Angin.

Namun Dewi Klodan menolak untuk dipinang Yuyu Rumpung dan pilih lari dari Kerajaan Ngatas Angin. Hal itu membuat Yuyu Rumpung marah dan kembali menyihir semua sumber mata air hingga mampat. Dalam waktu sekejap kekeringan terjadi di seluruh Kerajaan Ngatas Angin.

Mengetahui kondisi kekeringan yang melanda Kerajaan Ngatas Angin dan rakyatnya mulai gelisah, hingga banyak masyarakat yang kelaparan, Syeh Cek-Cek Molek banyak digerudug banyak orang. Mereka justru menuduh Cek-Cek Molek bersama pengikutnya sebagai biang keladi – timbulnya kekeringan – semua sumber mata air mati. Karuan saja tuduhan tersebut membuat hati Cek-Cek Molek bersedih lantas berdoa agar segera turun pertolongan dari Allah Ta’ala untuk mengatasi kemelut di Kerajaan Ngatas Angin tersebut.

Sesungguhnya, Syeh Cek-Cek Molek dan pengikutnya pun bersedih bila tidak ada sumber mata air untuk berwudlu. Dalam kondisi terdesak – hingga mengancam keselamatan jiwanya, Syeh Cek-Cek Molek menancapkan tongkatnya di dua tempat, seketika di dua tempat itu mengalir air sangat deras. Hanya saja, warna airnya berbeda, yang satu berwana jernih dan bersih diberi nama Sendang Joho, yang satunya berwana kekuningan diberi nama Sendang Coca Ledura. Kepada Syeh Cek-Cek Molek, warga yang mengetahui bertanya, ”Mengapa airnya berbeda?”

Lantas Cek-Cek Molek menjawab,”yang air berwarna jernih untuk keperluan minum dan masak agar mereka tidak mudah terkena penyakit. Juga untuk keperluan mengambil air wudlu bagi warga yang beragama Islam akan menjalankan shalat lima waktu, sedangkan air yang berwarna kekuningan adalah air yang kotor tapi penuh zat penyubur tanah, sangat baik untuk mengairi sawah agar hasil panennya melimpah.”

Mengetahui Syeh Cek-Cek Molek berhasil mendatangkan air – mengatasi kekeringan, Dewi Klodan kembali ke Ngatas Angin dan melamar Syeh Cek-Cek Molek untuk dijadikan suami. Namun lamaran Dewi Klodan tersebut ditolak oleh Syeh Cek-Cek Molek. (Menurut keterangan warga setempat hingga sekarang banyak pria yang menjadi perjaka tua karena mereka tidak mau melamar seorang gadis dan justru menunggu dilamar).

Justru usaha Cek-Cek Molek yang bisa mengalirkan air yang sangat deras tersebut membuat hati Yuyu Rumpung dan pengikutnya bertambah geram. Mereka terus berusaha agar masyarakat Kerajaan Ngatas Angin tidak mengikuti ajaran Cek-Cek Molek.

Kembali Yuyu Rumpung mengeluarkan sihirnya untuk membakar seluruh tanaman padi petani Kerajaan Ngatas Angin hingga ludes tanpa sisa.

Belum berhenti usaha Yuyu Rumpung yang ingin menggagalkan usaha penyebaran agama Islam di Kerajaan Ngatas Angin, suatu malam Yuyu Rumpung menghadap gurunya Jin Bekasaan di Hutan Nglarangan. Dia mengadu kepada Jin Bekasaan bahwa telah dipermalukan berulang kali oleh Syeh Cek-Cek Molek. Disampaikan, para pengikutnya Yuyu Rumpung mulai berkurang dan banyak mengikuti ajaran Syeh Cek-Cek Molek. Mereka mulai menolak untuk melakukan ritual-ritual – memuja kepada Jin Bekasaan di setiap malam bulan purnama. Justru penduduk Ngatas Angin mulai menjalankan shalat dan berguru ilmu tasawuf kepada Syeh Cek-Cek Molek di padepokan Cindelaras.

Laporan Yuyu Rumpung kontan membuat Jin Bekasaan marah dan mengeluarkan pagebluk (wabah penyakit) yang sulit diobati. Jin Bekasaan menyuruh muridnya, Yuyu Rumpung menebarkan bisa (upas-Jawa) ke dalam sumur hingga asapnya terus keluar merebak kemana-mana. Seketika terjadi banyak penduduk Ngatas Angin yang sakit tanpa sebab. Pagi sakit – sore meninggal. Sore sakit – pagi sudah meninggal.

Mengetahui wabah penyakit yang terus merenggut jiwa, membuat masyarakat Ngatas Angin kembali resah. Lagi-lagi mereka menuduh Syeh Cek-Cek Molek sebagai biang keladinya. Mereka menuduh Syeh Cek-Cek Molek telah mempengaruhi masyarakat Ngatas Angin untuk tidak menyembah kepada Jin Nglarangan – hingga membuatnya marah.

Dengan ilmu tasawuf yang dimiliki, Syeh Cek-Cek Molek berdoa dibantu sejumlah pengikutnya agar wabah penyakit segera sirna. Mereka lantas mendatangi warga yang sakit – dan membawanya kepada dua sendang yang airnya berbeda warna – ciptaannya tersebut.  Mereka diusap dengan air secara bergantian. Setelah sembuh mereka diminta untuk mengucapkan dua kalimah shahadat. Syeh Cek-Cek Molek menyampaikan kepada warganya agar terhindar dari segala sihir untuk membaca alfatihah berulang-ulang.

Semenjak itu Yuyu Rumpung mulai ditinggalkan pengikut setianya, seperti; Bekel Cacing Anil, Bekel Kebo Ladrang, dan Bekel Celeng Srenggi. Mereka secara diam-diam tanpa diketahui satu dengan yang lainnya menyelinap di padepokan Cindelaras – menghadap Syeh Cek-Cek Molek, setelah itu kembali lagi kepada Yuyu Rumpung.

Kembali Yuyu Rumpung bertambah marah setelah usahanya selalu gagal. Yuyu Rumpung akhirnya melabrak Syeh Cek-Cek Molek di padepokan Cindelaras yang didirikan dekat Candi Ngatas Angin itu. Yuyu Rumpung menantang untuk beradu kesaktian lagi. Namun tantangan Yuyu Rumpung ditolak oleh Cek-Cek Molek. Justru Cek-Cek Molek berusaha menyadarkan agar Yuyu Rumpung bersama pengikutnya segera kembali ke jalan Allah Ta’ala. Sayang ajakan Cek-Cek Molek tidak digubris, justru membuatnya tersinggung dan langsung melayangkan jurus-jurus sihirnya ke arah Cek-Cek Molek. Terpaksa tantangan Yuyu Rumpung ditanggapai juga oleh Syeh Cek-Cek Molek dengan maksud agar pria penyembah Jin Bekasaan tersebut segera insaf dan tidak lagi meresahkan warga setempat dan menimbulkan banyak korban. ”Aku menerima tantangan kamu Yuyu Rumpung tapi dengan syarat,” ungkap Syeh Cek-Cek Molek.

Karena dalam adu fisik, Yuyu Rumpung selalu kalah, maka dia mengajak sabung ayam. Yuyu Rumpung menyampaikan, bila salah satu ayam jagonya kalah, maka botohnya (pemiliknya) harus dibunuh.

Karuan saja syarat yang disampaikan oleh Yuyu Rumpung membuat hati Syeh Cek-Cek Molek bingung. Pasalnya, sabung ayam jago adalah larangan Allah, juga syaratnya terlalu berat, karena harus ada yang mati terbunuh. Namun semua diserahkan kepada Allah Ta’ala, dan diterima syarat dari Yuyu Rumpung. ”Saya terima syarat yang kamu sampaikan Yuyu Rumpung, Saya bersedia dibunuh bila ayam jagoku nanti kalah. Tapi bila sebaliknya, ayam jago kamu yang kalah saya tidak akan membunuh kamu. Tapi kamu harus pulang tidak boleh menginjakkan kaki kamu di atas tanah Ngatas Angin hingga ke Maguan (desa asal Yuyu Rumpung), dan kamu harus membayar satu lumbung berisi padi akan saya berikan kepada rakyat Ngatas Angin yang gagal panen terkena sihir kamu,” pinta Syeh Cek-Cek Molek.

Setelah terjadi kesepakatan, justru membuat hati Syeh Cek-Cek Molek kembali bingung. Pasalnya, dia tidak memiliki ayam jago yang akan diadu. Namun begitu melihat ayam jago berwarna hitam mulus (hitam kelam) yang dibawa Yuyu Rumpung, mata batinnya melihat sebuah gandhen (pemukul dari kayu).

”Astagfirullah alhadzim,” gumamnya,”ayam jago Yuyu Rumpung ternyata hasil sihir dari gandhen.” Lantas dia melirik sebuah kapak milik warga yang hendak mencari kayu bakar di hutan. Kapak disabda berubah menjadi ayam jago yang gagah perkasa berwana liring kuning.

Masing-masing botoh sudah membawa ayam jago di tangan dan siap diadu. Hingga berjam-jam kedua ayam jago jadi-jadian tersebut bertarung di tengah-tengah padepokan Cindelaras, hingga belum ada salah satu ayam jago yang kalah. Yuyu Rumpung terlihat kesal, karena dia belum pernah beradu jago hingga menunggu berjam-jam. Biasanya begitu ayam jagonya dilepas langsung mematuk, lawannya mati seketika. Namun begitu diadu dengan ayam jago Syeh Cek-Cek Molek, ayam jagonya sering tersungkur dan terluka. Namun terus Yuyu Rumpung melancarkan sihir-sihirnya kepada ayam jagonya agar terus berkelahi, namun tetap saja tidak mampu mengalahkan ayam jago Syeh Cek-Cek Molek. Yang membuat Yuyu Rumpung marah ketika ayam jagonya tiba-tiba berubah menjadi serpihan kayu seperti terbelah oleh kapak. Karena malu, akhirnya dia mengaku kalah dan memenuhi semua persyaratan yang disepakati. Untuk pulang ke Desa Maguan, Yuyu Rumpung tidak boleh menginjakkan kakinya dan harus membayar satu lumbung padi.

Dengan kesaktian dan sihirnya, lantas Yuyu Rumpung memetik beberapa helai daun ploso ditebar ke tanah. Seketika daun-daun ploso berubah menjadi serpihan batu besar berderet hingga menuju Desa Maguan. Bahkan ketika melintasi sungai, serpihan batu-batu tersebut membentuk jembatan. Yuyu Rumpung berjalan di atasnya hingga halaman rumahnya. Di rumah dia menyiapkan lumbung dan diisi dengan padi. Namun begitu diantar ke Kerajaan Ngatas Angin betapa terkejutnya Syeh Cek-Cek Molek mengetahui telah ditipu oleh Yuyu Rumpung. Pasalnya, tidak semua yang ada di dalam lumbung adalah padi. Hanya bagian atasnya saja yang asli padi, sedangkan bagian bawahnya berisi jerami. Karena takut bakal terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dari Syeh Cek-Cek Molek, Yuyu Rumpung lari tunggang langgang hingga jatuh bangun. Akhirnya Yuyu Rumpung ditemukan mati mengenaskan di dalam sebuah sumur upas (berbisa) – sumur yang pernah digunakan untuk menebarkan penyakit (pagebluk) dan meracuni binatang ternak penduduk.

Begitu kecewa dengan Yuyu Rumpung, sepontan Syeh Cek-Cek Molek mengeluarkan sabdanya,”Tidak ada jera-jeranya Yuyu Rumpung mengkhianati orang-orang Ngatas Angin. Karena telah mengurangi yang sudah menjadi hak orang Ngatas Angin, maka sebagai balasannya, hasil panen padi orang Maguan tidak akan mampu melebihi hasil panen orang-orang Ngatas Angin,” sabdanya di dekat mayat Yuyu Rumpung.

Sedangkan para pengikut Yuyu Rumpung banyak yang menjadi pengikut Syeh Cek-Cek Molek. Seperti terbukti pada makam Cacing Anil, Kebo Ladrang dan Celeng Srenggi dimakamkan secara Islam. (*)

Peninggalan:

  1. Makam Syeh Sayyid Malik Al Subro alias Syeh Cek-Cek Molek, dengan panjang 4 meter, tinggi 1 meter, terletak di sebelah selatan Masjid Ngetos yang dulu adalah padepokan Cindelaras juga paseban para penganut agama Hindu yang hendak melakukan sembayang menghadap candi Ngetos.
  2. Jembatan batu (treteg watu), adalah hasil sihir dari Yuyu Rumpung saat kalah perang adu kesaktian (adu ayam jago) dengan Syeh Cek-Cek Molek).
  3. Sendang Joho, sendang tersebut dimanfaatkan bagi warga untuk keperluan sehari-hari termasuk mengambil air wudlu, karena kondisi airnya sangat bersih dan jernih.
  4. Sendang Coca Leduro, sendang yang airnya berwarna keruh, berdekatan dengan Sendang Joho.
  5. Sumur berbisa (sumur upas-Jawa), sumur yang konon dimanfaatkan oleh Yuyu Rumpung untuk menebar bisa (upas) kepada seluruh penduduk Ngatas Angin (Ngetos). Sekarang sumur yang satu ini banyak dimafaatkan penduduk setempat untuk memandikan keris (senjata).
  6. Di sebelah barat Makam Syeh Cek-Cek Molek terdapat petilasan makam sembilan. Sebuah petilasan yang sama terdapat di komplek makam Syeh Jumadil Qubro di Troloyo – Trowulan, Mojokerto. Petilasan tersebut menurut ceritanya pernah dijadikan tempat bermusyawarah para sembilan wali (wali songo) periode ke tiga. Konon Syeh Cek-Cek Molek dikenal sebagai guru para wali sembilan karena kehebatan ilmu tasawufnya. Salah satu wali yang pernah berguru dan ahli dalam ilmu tasawuf adalah Sunan Ampel. Mereka sebelum diangkat menjadi wali harus berguru terlebih dahulu kepada Syeh Cek-Cek Molek di Kerajaan Ngatas Angin (Ngetos). Sedangkan Syeh Cek-Cek molek sendiri tidak mau diangkat sebagai wali, karena beliau merupakan wali kutub – walinya para wali.
  7. Makam Syeh Sayyid Al Qubro alias Ki Ageng Ngatas Angin alias Sunan Ngatas Angin, adik Syeh Cek-Cek Molek, berada di belakang Masjid Ngetos.
  8. Candi Ngetos, penyimpanan abu Raja Hayam Wuruk

Sumber :

  1. Aries Trio Effendi (Empu Pendeng), juru kunci makam Syeh Cek-Cek Molek. Empu Pendeng adalah satu sil-silah dengan Syeh Malik, juru kunci makam Syeh Cek-Cek Molek pertama.
  2. Tim Penelusur Sejarah kantor Arsip Daerah kabupaten Nganjuk, (2006)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *