kapt-kasihin-alun2
Budaya Entertainment

Jejak Kapten Kasihin “Pahlawan Kemerdekaan asal Nganjuk”

NGANJUK – Warga Nganjuk tentunya tidak banyak mengenal bahwa sesungguhnya di Kabupaten Nganjuk ada seorang tokoh pahlawan terkenal. Dia adalah Kapten Kasihin, pejuang kemerdekaan asal Desa Kedongombo, Kecamatan Tanjunganom. Seperti terlihat di tugu air mancur alun-alun Nganjuk, sosok Kapten Kasihin terpampang dengan gagahnya. Berikut adalah laporan hasil penulusuran jejak sang Pahlawan Kemerdekaan Kapten Kasihin saat berjuang melawan penjajah Belanda di Kabupaten Nganjuk.

Menurut keterangan petugas Kantor Arsip dan Perpustakan Nganjuk, Samsul Hadi bahwa Kapten Kasihin adalah seorang Pejuang Kemerdekaan yang berjuang pada masa agresi belanda, 1949-an. Keterangan itu seperti dipaparkan dalam buku yang berjudul  ’Kapten Kasihin Pejuang Kemerdekaan Tahun 1949’.

Dalam buku tersebut sengaja memuat kisah perjuangan Kapten Kasihin saat berjuang melawan tentara Belanda.

Menurut Samsul yang mengaku telah melakukan penelusuran sendiri ke desa asal Kapten Kasihin di Desa Kedungombo, Kecamatan Tanjunganom tersebut sekitar tahun 2008 lalu. Data yang terkumpul diperoleh dari kantor legiun veteran. Hanya saja data yang diperoleh belum sempurna untuk mengungkap kisah perjuangan Kapten Kasihin.

Berdasarkan data, memang Kapten Kasihin bersama anggota tentara yang lain. Banyak ditemukan bukti melakukan perlawan di desa tersebut, seperti bukti tertulis yang berada di dekat SDN Kedungombo 3. Sebuah tulisan yang diabadikan pada sebuah tugu berukuran satu meter persegi itu bertuliskan, ” Di sini gugur sebagai kusuma bangsa dlm. pertempuran melawan imperialism belanda dalam mempertahankan/ menegakkan kemerdekaan R.I’.

Selanjutnya, masih ada tulisan yang menyebutkan nama, umur, pangkat, jabatan, kesatuan hingga tanggal gugurnya Kapten Kasihin. “Tapi sayang tugunya saat ini sudah tidak terawat,” kata Sabar, 50, salah satu warga, yang rumahnya tepat berada di depan tugu itu.

Dalam tugu dengan latar cat putih dengan tulisan merah itu disebutkan bahwa Kapten Kasihin gugur pada usia 32 tahun. Dia gugur tepat pada 22 April 1949 pukul 09.30. Berdasarkan cerita, Kapten Kasihin gugur akibat ditembak oleh tentara Belanda.

Masih dalam tugu itu, disebutkan bahwa saat gugur pangkat Kasihin adalah kapten. Sedangkan jabatannya saat itu adalah Komandan Kompi (Danki) III Kesatuan Jon 22 Sriti. Hanya itu keterangan yang menyebutkan tentang sejarah singkat Kapten Kasihin.

Masih dikatakan Sabar, tugu itu saat ini memang tidak terawat. Apalagi letaknya yang dekat dengan sekolahan. Terkadang anak-anak sekolah seenaknya membuang sampah di sekitar tugu itu. “Beberapa bagian sudah ada yang rusak,” lanjut Sabar.

Sebagai warga Dusun Tawangsari, Sabar sendiri sebenarnya juga tidak terlalu paham tentang cerita Kapten Kasihin. Dia hanya mendengar bahwa tentara itu sempat tertembak di bahu sebelah kiri di area persawahan. Selanjutnya lari ke pemukiman warga dan selanjutnya bersembunyi di rumah Bapak Rasio, salah satu warga setempat. “Hanya itu yang saya tahu,” lanjutnya.

Sayang sekali, warga setempat tidak banyak mengenal ikhwal perjuangan Kapten Kasihin. Sebagian mengenal nama Kapten Kasihin karena ada tugu tersebut. Namun saat ditanya tentang sejarahnya, banyak yang menggelengkan kepala. “Lho, memang tewasnya di sini ya?” kata salah satu warga.

Bahkan, saat ditanya mengenai adanya serangan Belanda di Desa Kedungombo, sebagian warga yang telah berusia paro baya itu juga mengaku tak terlalu mengetahuinya. Sedangkan warga yang sudah berusia lanjut di desa itu sebagian besar juga telah meninggal.

Selain terdapat sebuah tugu yang menceritakan tentang sejarah singkat Kapten Kasihin, Dusun Tawangsari yang ada di Desa Kedungombo, Tanjunganom juga masih menyimpan jejak sejarah lainnya. Karena di dusun itulah pejuang kemerdekaan itu sempat menghembuskan nafas terakhirnya.

Satu-satunya saksi sejarah yang mengetahui pasti gugurnya Kapten Kasihin adalah Kabul. Saat ini usianya sudah menginjak 75 tahun. Dia adalah anak dari almarhum Rasio, warga yang rumahnya sempat dijadikan tempat persembunyian oleh Kapten Kasihin saat dikejar oleh pasukan Belanda.

Kabul mengatakan saat terjadinya serangan Belanda itu, tepatnya pada 1949, dia masih berusia 13 tahun. Pagi itu sekitar pukul 09.00 tiba-tiba terdengar suara tembakan dari kejauhan yang ternyata berasal dari area persawahan yang tak jauh dari rumah Kabul.

Pertempuran itu terjadi antara pasukan Belanda dengan tentara Indonesia. Tak berselang lama, tiba-tiba datang Kapten Kasihin ke rumah Kabul dengan kondisi bahu sebelah kiri sudah berdarah karena terkena tembakan. “Saat itu (Kapten Kasihin, Red) langsung masuk ke rumah dan berbaring di dipan,” kenang Kabul.

Namun di luar rumah tentara Belanda masih terus melakukan pencarian terhadap Kapten Kasihin. Ternyata persembunyian Kapten Kasihin itu berhasil diketahui oleh Belanda karena dari dalam rumah Kabul itu Kapten Kasihin terus merintih menahan sakit akibat luka yang dideritanya.

Tentara Belanda langsung masuk ke rumah Kabul dan menemukan Kapten Kasihin yang sedang terbaring lemah. Saat itulah tentara Belanda langsung menghabisi Kapten Kasihin dan selanjutnya meninggalkan rumah Kabul. “Bapak (Rasio, Red) lalu langsung mencoba merawat jenazah Kapten Kasihin,” lanjut Kabul.

Dari rumah Kabul itu, jenazah Kapten Kasihin sempat dipindahkan ke rumah warga lainnya. Di antaranya untuk dimandikan dan disalati. Selebihnya, Kapten Kasihin dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) setempat.

Dusun Tawangsari dan sekitarnya memang saat itu menjadi pusat atau pangkalan tentara nasional Indonesia (TNI). Selain menjadi pangkalan militer, ternyata Desa Kedungombo juga sempat dijadikan pusat pemerintahan Nganjuk sementara. (skd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *